Selamat datang di blog saya

Menyikapi Kegagalan

Kagak ada yang namanya kegagalan. Jangan segan-segan mencoba lagi. Orang lain boleh bosan dengan yang kita kerjain, sedangkan usaha kita dalam rangka ibadah kepadaNya, soal hasil serahkan karena itu ialah urusan Allah. Baik sukses dan gagal, semua akhirnya bakalan sama aja. Tapi manisnya ibadah hanya kita yang merasakan. Allah yang kita kejar redho- Nya, hingga waktu gak sia-sia. Berprestasi didunia demi akherat. Dunia pun, Allah akan kasih dengan kebaikan, bukan untuk keburukan kita nantinya.
Alhamdulillah wabihi nasta’in, dan hendaknya jika belum berhasil, maka janganlah orang mencaci kepada takdir. Karena takdir itu keputusan Allah swt. Terlebih lagi mencaci tuhannya karena tidak ridho terhadap takdirnya, itu termasuk kekafiran. Barangsiapa mencaci Allah SWT, sama saja baik dengan ucapan atau dengan isyarat, baik melakukannya dengan serius atau hanya bercanda –bahkan dengan bercanda lebih keji, karena menjadikan Allah SWT sebagai bahan candaan dan ejekan– lalu mencari alasan agar tidak disalahkan, maka dia kafir berdasarkan firman Allah swt:


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ إِنَّمَا كُنَّ نَخُوْضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُوْنَ، لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانِكُمْ

”Jika engkau (wahai Nabi) menanyakan kepada mereka (tentang perbuatan mereka mengolok-olok shahabat) maka mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau.’ Katakan (kepada mereka): ‘Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, kalian berolok-olok? Janganlah kalian minta udzur, sungguh kalian telah kafir setelah kalian beriman’.” (At-Taubah: 65-66)

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment