Selamat datang di blog saya

Malam Tak Lagi Menyimpan Air Mata



Malam mengantar sekantung awan melambai dimatamu dan akan segera pulang, dengan terpaan angin ragaku yang datang membawa rindu, pada sepucuk warna jingga diujung penantian. Menegaskan beberapa kata, dalam lukisan keinginan yang tidak hanya terletak dilangit-langit impian semata, hingga membuatmu berhenti disatu titik kepastian, tak melayang lagi seperti awan yang menggantung tanpa cantelan.
Kedatangku kali ini, untuk membalikan musim dan menyusun penggalan kisah dari separuh jiwa kita yang terpisah. Menjadikanya sebagai barisanbarisan kalimat syahdu, tentang utuhnya sebuah ketulusan, dalam bait-bait sajak dan puisi yang tak bosan kukabarkan setiap hari. Sebagai pengantar tidur dan menyambut bangunmu, bersama kesucian ma’rifat cinta abadi, yang kita tempuhi dengan seikat tali.

Walau dingin menjabat erat seglintir ragaku yang terbelenggu kerumunan kabut-kabut, dan menyudutkanku pada sejengkal nyanyian bosan. tak gentar kulawan gigil bersama rindu yang beriak seperti ombak, melandai datang dan pergi, menyentuh pantai. tak gentar, walau harus kulamar duka, diatas duri setajam belati. sebab kepingan asa harus disatukan demi sebuah nilai harga diri yang tak terbeli.
Walau terperangkap gelap, dikesunyianya tetap kutatap dengan hening, mengurai sepi, menjadi serpihan surga yang harus kukumpulkan untuk membelai esok di kediamanku. karena kedatangku membawa warna baru ketika aku memelukmu dalam rindu, seperti rindunya malam mengharap bulan berwajah sempurna, hingga malam tak lagi menyimpan air mata. Dan itu hanya untukmu.

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment